Betapa tak kan pernah bisa aku menyentuh wujudmu, wahai malam
Di ujung jalan ini aku ingin berhenti sejenak sambil ingin ku tengok kembali kilasan sang waktu yang telah membawaku kedalam sebuah masa dimana aku telah melukai diriku sendiri...
Semua yang telah ku mengerti akan sesuatu darimu telah menjadi sebuah kebodohan terindah yang pernah aku lakukan
Telah kututup mata dan telinga ini hanya untuk sekedar membohongi perasaanku, bahwa aku tak mengerti apapun
Wahai malam, tak bolehkah aku sejenak saja menyentuh wujud keabadianmu?
Tak bolehkah aku untuk sekedar berjalan disisimu sejenak?
Tak bolehkah aku untuk sekedar menjabat kelelapan tanganmu?
Tak bolehkah untukku hanya sekedar mengingatmu?
Meski kutahu gelapmu tak akan abadi untukku, dan jalanmu akan menyisakan perih untukku...
Wahai malam, didalam gelapmu telah kulihat indahnya bintang-bintang yang memancarkan indah cahayanya, dan nanti jika pagi telah menjelangmu aku berdo'a di dalam syukurku agar bisa kutemui kembali malam-malam sepertimu





0 komentar to “kepada malam”